Sebuah Pilihan

"Ketika hatimu terlalu berharap akan sesorang, maka Allah timpakan kepadamu pedihnya sebuah pengharapan, agar kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain kepada-Nya. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut  agar kamu kembali berharap kepada-Nya"- Imam Syafi'i

Adalah hal yang tidak baik, tetapi menjadi sebuah kewajaran untuk cinta di bawah 20 tahun. Berdasarkan pengalaman dan wejangan dari Ibu saya tercinta dan teman-teman saya.

Jatuh cinta... jatuh cinta adalah sebuah kewajaran untuk setiap insan tanpa memandang usia, tahta, kasta, atau apapun itu. Bukankah jatuh cinta merupakan hal yang menyenangkan? Ya benar, hanya sekilas menyenangkan bila diungkapkan pada waktu yang tidak tepat.

Namun, bukan hal yang menyenangkan , ketika kita mengetahui pasangan kita berpaling dengan atau tanpa sebab bukan? Marah , kesal , kecewa mungkin adalah reaksi pertama dan utama, tetapi sejauh apakah kita bereaksi? Mengumpat dan menghancurkan pilihannya atau berpaling mencari pilihan yang lebih baik sambil tersenyum? Jikalau hanya ada kedua pilihan itu, saya akan merekomendasikan pilihan nomor dua walaupun itu sulit.

Di umur sekarang ini, kita tidak bisa membatasi dan "mengkrangkeng" pasangan kita untuk menjadi seperti ini... itu... Lelaki butuh kebebasan, begitu wanita butuh ruang perbaikan. Menurut saya, baik dia atau diri kita menjadi penyemangat dan pengamat saja sudah jauh lebih dari cukup. Kita harus membebaskan dirinya untuk meng-eksplore apapun untuk merancang masa depannya. Terlebih jika kalian bisa merancang bersama, bangunlah impian itu sebaik mungkin.

Lalu bagaimana jika sudah terlampau jauh kita merancang bersama, tetapi pasangan kita malah berpaling? Jangan salahkan dia sepenuhnya. Lantas siapa yang pantas untuk kita salahkan? Tidak seorangpun, itu masalah pilihan. Saya yakin betapa beratnya orang dalam dua pilihan, bertahan atau meninggalkan. Ketika ia memilih bertahan, artinya ada sesuatu yang bisa diperbaiki dan menunjang masa depan keduanya. Namun, ketika meninggalkan adalah pilihan, mungkin ia tidak menemukan hal yang ia butuhkan untuk menunjang masa depannya kelak. Tidak adil? memang terdengar tidak adil, tetapi inilah yang sering terjadi pada generasi sekarang. Kita harus berani  mengambil keputusan pahit, walaupun itu menyakiti hati sesorang demi sesuatu yang lebih baik di masa depan.

Kita sedang pada tahap pencarian, jika tidak sesuai, maka pergi dan tinggalkan. Banyak orang datang dan pergi seenak mereka, jangan kecewa atau sedih berlarut-larut akan hal itu, itu tandanya kita memang sedang sama -sama mencari, tidak usah pula berharap terlalu banyak terhadap sesuatu, pegang teguh hadis yang menjadi pedomanku saat ini, cukup percaya bahwa Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik atas apa yang telah ia ambil dari diri kita.

"Ketika hatimu terlalu berharap akan sesorang, maka Allah timpakan kepadamu pedihnya sebuah pengharapan, agar kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain kepada-Nya. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut  agar kamu kembali berharap kepada-Nya"- Imam Syafi'i

Dan cintai lah orang sewajarnya, barangkali apa yang kamu cintai adalah hal yang buruk untukmu, dan apa yang kamu benci adalah hal yang terbaik untukmu di kemudian hari. Selalu memperbaiki diri hari demi hari, doakan untuk seorang yang kamu harapkan, karna sungguh, hanya Allah lah yang maha membolak-balikkan hati seseorang. Belajarlah dari kisah cinta Ali dan Fatimah, yang tak pernah mengungkapkan , tetapi saling mendoakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teruntuk Dirimu Kekasihku